Text
Ijtihad politik ulama sejarah nu 1952-1967
Buku "Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967" karya Greg Fealy mengkaji manuver politik Nahdlatul Ulama. Buku ini membuktikan bahwa keterlibatan NU dalam politik praktis dan keputusannya menjadi partai politik (keluar dari Masyumi) bukanlah tindakan tanpa arah, melainkan bentuk ijtihad yang dilandasi oleh ideologi dan fikih Sunni klasik.Berikut adalah catatan ringkas dan struktur utama dari sejarah politik NU pada periode tersebut:1. Latar Belakang Keputusan Politik (1952)Keluarnya NU dari Masyumi: Pada tahun 1952, NU memutuskan keluar dari Partai Masyumi. Alasan utamanya adalah kekecewaan para kiai terhadap dominasi tokoh modernis dan marginalisasi peran ulama dalam penentuan kebijakan serta pembagian kursi kabinet.Kembali ke Khittah (Praktis): Langkah ini merupakan ijtihad politik NU untuk bertransformasi menjadi partai politik mandiri guna melindungi kepentingan kaum Nahdliyin, memajukan pendidikan agama, dan menjaga tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jamaah.2. Manuver dan Dinamika Politik (1952-1960)Pemilu 1955: Sebagai partai politik, NU menunjukkan kekuatan besarnya dengan meraih posisi keempat (sekitar 18% suara nasional), membuktikan basis massa akar rumput yang sangat kuat.Koalisi dan Pragmatisme: NU dikenal sangat luwes dan adaptif dalam berkoalisi, baik dengan kabinet yang dipimpin PNI maupun Masyumi. NU memandang kekuasaan sebagai instrumen (washilah) untuk melindungi umat.Konseptualisasi Negara: Para ulama NU merumuskan pandangan bahwa bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan dasar Pancasila sudah final sesuai dengan konsep Darul Islam dalam pandangan fikih mereka (dikenal sebagai ijtihad hubungan agama dan negara).3. Ketegangan dan Tantangan Ideologis (1960-1965)Era Demokrasi Terpimpin: NU menghadapi tantangan berat akibat naiknya pamor Partai Komunis Indonesia (PKI) yang didukung oleh Presiden Soekarno.Perlawanan terhadap PKI: Ulama dan elit politik NU menjadi garda terdepan dalam menentang kebijakan sepihak PKI, terutama terkait reforma agraria (aksi sepihak) yang merugikan para kiai dan santri di pedesaan Jawa.4. Transisi Orde Baru dan Akhir Partai NU (1966-1967)Dukungan terhadap Tritura: NU memberikan dukungan moral dan politik penuh terhadap gerakan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) yang menuntut pembubaran PKI dan pembersihan unsur komunis di pemerintahan pasca-G30S/PKI.Evaluasi Politik: Periode transisi ini menjadi titik evaluasi bagi para ulama. Meskipun NU berperan penting dalam transisi ke Orde Baru, benturan ideologi dan realitas politik praktis membuat banyak tokoh NU mulai mempertimbangkan kembali relevansi peran NU sebagai partai politik. Refleksi ini kelak menjadi pijakan kembalinya NU ke Khittah 1926.Secara keseluruhan, karya Greg Fealy menepis anggapan bahwa kiprah politik NU di era tersebut bersifat oportunis. Tindakan NU dianggap sebagai respon taktis ulama (ijtihad) dalam merespon dinamika negara yang mayoritas penduduknya Muslim.Jika Anda tertarik, saya dapat membantu Anda untuk:Menjelaskan tokoh-tokoh kunci NU yang berperan dalam ijtihad politik pada masa itu (seperti K.H. Wahab Chasbullah atau K.H. Idham Chalid).Membahas lebih dalam tentang sistem Pemilu 1955 dan bagaimana NU bersaing dengan partai lain.Memberikan panduan referensi buku atau kajian ilmiah lain mengenai sejarah NU.Beri tahu saya bagian mana yang ingin Anda fokuskan untuk diskusi lebih lanjut.
| INSTIK0120074A-12 | 2X4.88 FEA I C-2 | My Library (Politik & Negara/Pascasarjana) | Tersedia |
| INSTIK0120073A-12 | 2X4.88 FEA I | My Library (Politik dan Negara/Pascasarjana) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain