Perpustakaan Tatakrama Universitas Annuqayah

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Sejarah pesantren Jejak Penyebaran dan Jaringannya

Text

Sejarah pesantren Jejak Penyebaran dan Jaringannya

Dr. Ading kusdiana, M.Ag - Nama Orang;

Sejarah pesantren di Indonesia berakar kuat dari tradisi lokal dan berfungsi sebagai pusat penyebaran Islam, perlawanan kolonial, dan pembentukan jaringan ulama yang luas. Sistem ini bersifat mandiri dengan figur sentral kiai.
Berikut adalah abstrak/catatan mengenai jejak penyebaran dan jaringan pesantren:
Jejak Penyebaran Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara yang muncul seiring masuknya Islam, diperkirakan sejak abad ke-13 Masehi. Asal-usulnya terkait erat dengan:
Tradisi Lokal: Pesantren diyakini mengadaptasi model padepokan Hindu-Buddha yang sudah ada sebelumnya, di mana tempat ini menjadi pusat pendidikan keagamaan.
Peran Wali Sanga: Para Wali Sanga, seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim (peletak dasar) dan Sunan Ampel, menggunakan padepokan/pesantren sebagai basis utama dakwah dan pendidikan Islam di Jawa.
Basis Dakwah: Pada masa awal, fungsi utama pesantren adalah sebagai pusat penyebaran Islam non-klasikal, di mana santri belajar ilmu agama secara mendalam langsung dari seorang kiai.
Jaringan Pesantren dan Intelektual
Jaringan pesantren tidak hanya bersifat lokal, melainkan terhubung dalam sebuah "mata rantai intelektual" ( intellectual chains ) yang luas, baik di tingkat Nusantara maupun global.
Figur Sentral Kiai: Kiai adalah pemimpin dan pengasuh yang memiliki otoritas penuh di lingkungan pesantren. Kemajuan dan kemandirian pesantren sangat bergantung pada ketokohan kiai.
Sanad Keilmuan: Jaringan ini terjalin melalui hubungan guru-murid yang kuat (sanad keilmuan). Santri dari satu pesantren dapat melanjutkan studi ke pesantren lain atau bahkan ke Timur Tengah (seperti Mekah dan Madinah), lalu kembali u


Ketersediaan
INSTIK0231301A-232X7.342 ADI S C-1My Library (Pendidikan/Pascasarjana)Tersedia
UA0114056-2025i2X7.342 ADI S C-2My Library (Pendidikan)Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
2X7.342 ADI S
Penerbit
Bandung : Humaniora., 2014
Deskripsi Fisik
xvii + 266 hlm ; 23 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-979-278-245-0
Klasifikasi
2X7.342
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
cetakan 1 Desember 2014
Subjek
-
Info Detail Spesifik
Sejarah pesantren berawal dari tradisi tarekat Sufi di Nusantara, menjadi pusat pendidikan agama non-klasikal berbasis kitab kuning yang diajar Kiai, menyebar luas melalui jaringan ulama (Walisongo), dan berkembang dari sistem salafiyah murni (kitab kuning) menjadi sistem modern campuran (kurikulum umum/modern) sesuai kebutuhan masyarakat, berperan penting dalam penyebaran Islam dan pembentukan karakter santri, serta membentuk jaringan kuat berbasis geneologi atau kesamaan tarekat, seperti contoh di Jawa Barat pada abad 19-20. Jejak Penyebaran Awal Tradisi Tarekat: Pesantren awal berasal dari perkumpulan tarekat (sufi) yang mengedepankan zikir dan wirid, menjadi wadah pendidikan Muslim pertama. Peletak Dasar: Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Ampel) di Surabaya dianggap sebagai peletak dasar pendidikan ala pesantren, meskipun belum bernama pesantren saat itu, seperti di 『Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan』 oleh Dr. Ading Kusdiana, M.Ag. (Google Buku). Metode Awal: Menggunakan sistem non-klasikal, di mana Kiai mengajarkan kitab-kitab Arab gundul (tanpa harakat) kepada santri. Jaringan dan Perkembangan Jaringan Geneologi: Pesantren saling terkait melalui ikatan darah atau keturunan ulama pendiri, contohnya Pesantren Sumur Kondang di Garut yang terhubung dengan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Jaringan Tarekat: Pesantren terbentuk dalam jaringan karena kesamaan gerakan tarekat, seperti Pesantren Al-Falah Biru dengan Al-Asyariyah Cimencek yang sama-sama mengembangkan Tarekat Tijaniyah. Penyebaran Melalui Ulama: Para Walisongo dan ulama lainnya mendirikan pesantren untuk mempermudah syiar Islam, memungkinkan masyarakat belajar agama dengan leluasa. Adaptasi Sistem: Dari sistem salafiyah murni, pesantren berkembang mengadopsi sistem modern (campuran) dengan kurikulum umum, dan akhirnya sistem manajemen modern, seiring perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Pernyataan Tanggungjawab
Dr. Ading kusdiana, M.Ag
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Perpustakaan Tatakrama Universitas Annuqayah
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik